Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Friday, 9 May 2014

Hati-Hati di Terminal #mudik

1. Abis baca Koran Warta Kota hari ini, judulnya “Calon Penumpang Dikepung Calo” #mudik

2. Calo kadang membantu tapi keseringan nyusahin #mudik 

3. Coba tebak kira2 diantara bandara, stasiun dan terminal mana yang masih banyak calonya? Ya benar terminal. Bandara AP1 dan AP2 blm pernah denger calo maksa, stasiun di bawah Ignasiun Jonan terus berbenah #mudik 

4. Di Warta Kota kasusnya di Pulo Gadung. dari dulu cerita Pulo Gadung gini2 aja, gak pernah berubah sampe sinetron Tersanjung 7 abis, masih aja sama ceritanya. Kemana ya aparat? #mudik 

5. Waktu ada berita anggota Forum Betawi Rembug yang berprofesi sebagai tukang ojek ditusuk preman Pulo Gadung. Lalu FBR serang balik tuh preman2 di Pulo Gadung, motor dibakar2in, sampe kocar-kacir semuanya. Gue sih seneng. Siapa suruh ‘senga’, dah salah kagak bayar sesuai tarif malah nusuk. Kata FBR “..Betawi…Rempuk…yang kurang ajar..Hajar..” #mudik 

6. Sudah jadi rahasia umum, penguasa terminal bukan Betawi aseli. Oknum2 luar daerah yang cari makan, tapi maksa #mudik 

7. Saya mau nambahin Kampung Rambutan, pengalaman pribadi. Termasuk rawan #mudik 

8. Dulu saya mau ke Tegal, ke kampong istri, sendiri. Pilihan pertama kereta api, tapi habis, terpaksa nge-bis #mudik 

9. Waktu itu malam hari jam 20.00an, karena awam, ada calo yg dtgin, awalnya baik, antar sampe loket. Diminta bayar Rp165 ribu kalo g salah ingat. Mahal bgt untuk cuma sampai Tegal #mudik 

10. Awalnya otak gak mikir harga mahal, karena tertipu oleh janji manis syetan berwujud manusia. #mudik 

11. Janjinya busnya bagus, ac, kelas eksekutif. Pengen gaya malah terperdaya #mudik 

12. Bis baru datang jam 21.30, tp yang datang kayak kopaja #mudik 

13. Terpaksa naik, di dalam gak lebih dari 7 penumpang. Di Kampung Rambutan cuman berempat yang naik: Saya, satu orang bapak dengan 2 anaknya #mudik 

14. Si Bapak ini lebih miris lagi, dipaksa beli, ditarik kerah bajunya. Bapak ini akhirnya beli. Beli tiket ke Boyolali. Tapi PO ini kok tetap angkut? Saya Tegal, Bapake Boyolali. #mudik 

15. Di dalam sudah ada 3 penumpang, ternyata dari Lebak Bulus naiknya #mudik Jadi mikir kok dia terminalnya banyak, Lebak Bulus iya, Kampung Rambutan iya. 

16. Saya tanya satu-satu, ada yang mau ke semarang, Yogyakarta. Loh kenapa semua jadi diangkut semua? Kan beda jalur? #mudik 

17. Yang bikin jengkel lagi itu pas di dalam bis, lagi nunggu penumpang yang lain ada 2 cecurut: satu pura2 ngamen, satu lagi jualan kacamata. Kenapa saya bilang cecurut, karena maksa! #mudik 

18. Penumpang Semarang sasaran pertama, dipepet terus suruh beli. Akhirnya si Orang Semarang ini kasih ikhlas duit tanpa membeli barang #mudik 

19. Udah dapet duit, turunlah 2 cecurut ini #mudik tapi mereka naik lagi #mudik 

20. Naik lagi tapi tukeran profesi, yg tadinya ngamen jadi jualan, yg jualan ngamen #mudik 

21. Sasarannya adalah gua! Dicolek2, langsung dimintain duit tanpa sempat mengeluarkan suara rombengnya #mudik 

22. Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah. Waktu itu bawa tas tulisannya Special Economic Zone, punya Kemenko RI dan ada lambang garudanya #mudik 

23. Bagusnya mereka paham arti lambang garuda #mudik 

24. Mereka akhirnya turun dari bis, tapi mereka berujar setelah saya menunjukan lambang Garuda “Kita mah rakyat kecil, Kita cuman cari makan!" So sweet….. #mudik 

25. Gue akhirnya turun karena bis gak berangkat2 juga #mudik 

26. Gue cari bis lain. Alhamdulillah, ada Dewi Sri. Gue ngadu sama mereka, kok gue dimintain mahal sama PO gak jelas #mudik 

27. Tanpa diperintah mereka juga marah dengan PO gelap tsbt. Akhirnya gue malah didatangin lagi sama calo PO gelap. “Kamu mau mengadu Kami antar PO, mau ada pertumpahan darah?” gue bilang aja gue orang Sekretariat Negara, gue gak mau rebut (padahal takut gua…hahaha) #mudik 

28. Duit dikembalikan tapi gak utuh. Bodo amat. Yang penting selamat #mudik 

29. Kalo lu mau tau PO nya apa bisa baca di trit Bismania http://bit.ly/1m51vbr atau Kaskushttp://bit.ly/1l5Icxx baca baik baik ya, karena infonya bagus banget. #mudik 

30. Sedikit mau bagi2 pengalaman: 
a. Sebisa mungkin hindari naik dan turun di dalam Pulo Gadung, juga Kampung Rambutan. Naik dari luar terminal aja #mudik 

b. Kalo terpaksa harus masuk ke terminal. Pastikan langsung menuju PO/armada yang jelas dan langganan Kita. Gak usah pedulikan calo. Bilang gini “Gue mau ikut Handoyo, Sinar Jaya, Ramayana, dll!” #mudik 

c. Sekarang dah banyak PO yang ngetem di luar terminal, ada yang buat markas sendiri. Mending ikut dari situ #mudik 



Monday, 13 January 2014

Indonesia: l’histoire se repete

Garuda Hitam Putih (Desain Pribadi)

Membangun kesadaran historis adalah belajar dari sejarah masa lalu. Sejarah mencatat bahwa dahulu bumi Nusantara adalah bangsa dengan perdagangan maju yang ditandai oleh bandar-bandar yang ramai disinggahi para pedagang dari luar yang berdagang beras, lada, garam, gading timah dan lainnya yang diimbangi oleh armada laut yang kuat dengan wilayah luas hingga ke Semenanjung Melayu, Tumasik atau Singapura dan kepulauan Filipina. Nusantara dikenal melalui Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Patih Gadjah Mada. Jaman Majapahit adalah sejarah jaman keemasan Nusantara masa lalu  (Sutrisno, 2008:24).
Jauh sebelum itu, Arysio Santos (2010) seorang Geolog dan Fisikawan Nuklir Brazil menyimpulkan hasil penelitian selama 30 tahun bahwa Indonesia dahulunya adalah sebuah peradaban besar yang bernama Atlantis, sebuah peradaban yang berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen berlimpah sumber daya alam seperti timah, tembaga, seng, perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau dan saluran irigasi. Setidaknya ada 2 pelajaran penting dalam membangun kesadaran historis. Pertama, membangun kebanggaan akan fakta sejarah bahwa bangsa Indonesia pernah berjaya di masa lalu, dan sejarah itu memiliki pola berulang, karena l’histoire se repeteKedua,  seperti kata Bung Karno for a fighting nation, there is no journey’s end. Kejayaan sebuah bangsa berbanding lurus dengan kualitas dan semangat perjuangan manusia Indonesia. Pesannya, “Saudaraku. Kita mesti berbuat sesuatu. Betapapun sukarnya itu.” (Taufik Ismail, 2008:5). Sekalipun Kita mungkin tidak akan pernah benar-benar menyelesaikannya (Darwin Saleh, 2011).  
Lalu bagaimanakah cermin Indonesia pada masa kini? Meminjam pendapat seorang ekonom asal Inggris, Profesor Dudley Seers (1973) yang mengatakan bahwa keberhasilan sebuah Negara khususnya dibidang ekonomi dapat diukur melalui jawaban atas beberapa pertanyaan berikut: What has been happening to provertyWhat has been happening to unemploymentWhat has been to inequality? Setidaknya data BPS (2013) menggambarkan 3 pekerjaan rumah pembangunan ekonomi Indonesia ketika masih ada 28,07 juta jiwa penduduk miskin, 7,39 juta jiwa pengangguran dengan tingkat ketimpangan di Indonesia yang mencapai 0,41. 
Bagi Ahmad Syafii Maarif (2008), setidaknya ada tiga minus yang substansial. Pertama, jumlah rakyat miskin yang masih cukup tinggi. Hal ini dibuktikan adanya piramida kaya-miskin dimana ada segelintir manusia kaya dengan penghasilan 1-3 miliar per bulan, sementara di posisi terbawah terbentanglah lautan kemiskinan yang luas, tanpa penghasilan. Kedua, semakin mengguritanya laku korupsi di kalangan elite birokrasi dan perusahaan dari tingkat atas sampai tingkat bawah, plus kerusakan lingkungan yang parah. Ketiga, minus ketiga ini dapat dilihat di kancah politik yang sekarang sedang dijadikan mata pencaharian.
Membayangkan Indonesia masa mendatang adalah Indonesia tanpa kemiskinan pengangguran dan ketimpangan ekonomi. Namun untuk menuju ke arah sana, maka dengan meminjam istilah Sri Sultan Hamengku Buwono X, bahwa sebuah bangsa besar harus mengikuti alur sejarah “continuity and change” yang terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Sehingga kondisi ideal membayangkan masa depan sebuah bangsa harus dimulai dengan adanya perpaduan kesadaran historis, kesadaran realistik, dan kesadaran futuristik, seakan membentuk segitiga utuh.
             Lalu setelah membangun kesadaran historis dan realistik, what next? Membangun kesadaran tersebut harus didahului dengan membangun fondasi ekonomi. Intinya adalah bahwa pada tahap awal perjalanannya masyarakat berpenghasilan rendah, tertutup dan belum demokratis seyogyanya memusatkan upayanya pada pembangunan ekonomi lebih dahulu (Barro, 2002).  Menurut Boediono (2007) berdasarkan PPP-dolar  pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar 4000 dolar sedangkan batas kritis bagi demokrasi sekitar 6600 dolar. Kita belum 2/3 jalan menuju batas aman bagi demokrasi. Artinya masih menurut Boediono (2007) bahwa tugas bangsa Indonesia adalah harus berhasil menumbuhkan ekonomi dengan 7% setahun, maka dengan laju pertumbuhan penduduk 1,2% setahun pendapatan per kapita kita akan tumbuh dengan sekitar 5,8% setahun.
Lalu bagaimanakah upaya mencapai target tersebut? Menurut penulis ada 3 langkah untuk mencapainya dalam tahun-tahun mendatang: [1] Sinergisitas para pelaku ekonomi. [a] PemerintahChina dan Rusia setidaknya saat ini mewakili negara dengan peran pemerintah yang kuat dan berhasil di dalam perekonomian tercermin dalam PDB nasional. Namun tidak semua negara dengan peran politik pemerintah yang dominan berhasil di dalam perekonomian. Sebagai contoh Indonesia pada masa demokrasi terpimpin 1959-65, secara politik begitu ditakuti oleh bangsa lain namun secara ekonomi tidak begitu menggembirakan, inflasi lepas kendali sehingga harga-harga mahal dan produksi nasional merosot. Masa Orde Baru, 1966-98, walaupun pendapatan per kapita meningkat dari sekitar hanya USD 70 pada pertengahan 1960an menjadi lebih dari USD 1000 pada pertengahan 1990an, namun dibalik itu semua terjadi kekurangan dalam hal penegakan hukum, maraknya KKN, dan kebebasan bermasyarakat (demokrasi) hingga dipenghujung tahun 1998, Orde Baru tumbang. Indonesia saat ini membutuhkan pemerintahan yang bersih, pemimpin yang berwibawa di mata hukum dan bebas aktif di mata dunia. 
[b] Masyarakat. Masyarakat atau civil society atau dalam bahasa Boediono (2009) adalah kelompok pembaharu yang merupakan salah satu aktor penting dalam membangun fondasi demokrasi ekonomi. Fahri Hamzah (2010) mengatakan bahwa masyarakat sipil diperlukan bagi kehidupan negara yang demokratis, sebab kekuatan negara tanpa kontrol akan berbahaya bahkan dapat menimbulkan despotisme. Kaum Samurai di Jepang diidentikan sebagai kelompok transformasi atau pembaharu. Sejarah bangsa Indonesia, kelompok pembaharu berdatangan dari berbagai latar belakang namun itu semua didominasi oleh kelompok terdidik setidaknya ini tergambar pada tahun tahun sebelum zaman kemerdekaan. Kaum Boedi Oetomo 1908 yang menjadi tonggak kebangkitan nasional adalah para kaum terdidik, begitu juga dengan Sumpah pemuda 1928 di-design oleh anak-anak muda terdidik, hingga proklamasi kemerdekaan yang didominasi oleh kaum pembaharu terdidik seperti Soekarno dan Hatta. Kesimpulan sederhananya adalah bahwa motor penggerak sebuah bangsa juga diawali oleh pergerakan dan perjuangan para kaum pembaharu terdidik yang partisipasinya harus dibuka dengan perbaikan akses pendidikan dan demokrasi. [c] WirausahaBusiness is the heart of economic development (Blakely, 1994). Para business man atau wirausahawan juga merupakan pelaku penting di dalam membangun masa depan Indonesia mendatang khususnya dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi. Setidaknya menurut Ir Ciputra bangsa Indonesia membutuhkan sedikitnya 2% pengusaha dari total penduduk. Baik asing maupun pribumi, semuanya aktor penting asalkan fair trade.
[2] Stabilisasi moneter, fiskal dan riil. Krisis subprime mortgage menambah daftar panjang catatan krisis ekonomi yang berawal dari sektor keuangan. Roy Davies dan Glyn Davies (2006) dalam bukunya “a history of money from ancient times to the present day” mengatakan bahwa sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 krisis ekonomi yang kesemuanya adalah krisis keuangan (moneter). Di mulai sejak tahun 1907 dimana krisis ekonomi berawal dari krisis perbankan di New York, berlanjut di tahun 1930 great depression yang berbarengan dengan the great crash di pasar modal New York hingga krisis 1998 dan 2008. Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa terjadi market failure
 Hal ini mengingatkan kembali akan ide besar ekonom John Maynerd Keynes dan para Keynesian yang percaya bahwa pemerintah memiliki andil besar di dalam mengembalikan stabilitas perekonomian. Keynesian percaya bahwa pasar tidak bisa dibiarkan begitu saja untuk mencari keseimbangan, perlu ada peran pemerintah di dalam perekonomian. Keynesian tidak mempercayai bahwa in the long run akan tercipta equilibrium baru sesuai mekanisme pasar yang berlaku. Bahkan kalimat terkenal yang keluar dari Keynes menggambarkan sikap skeptis Keynesian terhadap keyakinan Klasik, yaitu “in the long run we are all dead”.
Namun, pemerintah pun dapat melakukan kesalahan (government failure) seperti halnya mekanisme pasar. Sejarah tahun 1930-an, ketika agregat demand tidak tercapai dan pengangguran masih terus merangkak naik, sehingga sekitar tahun 1950 hingga 1960-an Margareth Thatcher dan Ronald Reagen mempopulerkan slogan liberalismenya: TINA (there is no alternative), dan menganggap pemerintah sebagai faktor penghambat perbaikan stabilitas perekonomian. Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarah bangsanya maupun bangsa lain. Negara Indonesia, dalam hal ini pemerintah melalui kebijakan fiskalnya (APBN/D) dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter di negeri ini harus bersinergi merumuskan langkah-langkah terbaik untuk membangun perekonomian. Stabilitas yang dilakukan haruslah bertujuan untuk menyelamatkan dan memperkuat sektor rill dalam bingkai stabilisasi fiskal-moneter dengan agenda utama reformasi pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perizinan, perpajakan, anggaran dan sektor keuangan.
[3] Reformasi law and orderthe rules of the game, dan policy consistency. Tiga hal ini dapat dirangkum menjadi sebuah istilah pendekatan baru di bidang ekonomi yakni institutional economicsInstitutional economics merupakan standing point untuk mendukung upaya membangun fondasi ekonomi Indonesia. World Bank (2002) mendefinisikan institusi sebagai aturan-aturan atau prosedur yang mengatur bagaimana agen (orang) berinteraksi dan organisasi-organisasi yang menerapkan aturan-aturan dan kode etik tersebut dapat mencapai hasil yang dikehendaki.
Institusi sendiri secara umum digolongkan menjadi dua jenis, yaitu institusi formal dan informal. Institusi formal termasuk aturan-aturan yang dituangkan ke dalam undang-undang dan peraturan oleh pemerintah, aturan-aturan yang disusun dan diadopsi oleh institusi swasta, dan organisasi-organisasi publik dan swasta yang bergerak di bawah undang-undang dasar. Institusi formal yang seringkali berada di luar sistem legal mencerminkan aturan-aturan tidak tertulis seperti perilaku sosial, seperti norma-norma, dan sanksi sosial (Arsyad, 2008).
North (1994:360; Yustika:34) mengartikan kelembagaan sebagai aturan-aturan yang membatasi perilaku menyimpang manusia (humanly devised) untuk membangun struktur interaksi politik, ekonomi, dan sosial. North sendiri membagi kelembagaan menjadi tiga komponen: institusi formal (formal institution), institusi informal (informal institution), dan mekanisme penegakan (enforcement mechanism). Hasil studi Chong dan Zanforling (2004) menyatakan bahwa kualitas dari kelembagaan akan mempengaruhi kinerja ekonomi secara signifikan.[1] []

Sumber Inspirasi

Armstrong, Harvey & Jim Taylor. 1993. Regional Economics and Policy. Second Edition. London: Harvester Wheatsheaf
Arsyad, Lincolin. 2008. Lembaga Keungan Mikro: Institusi, Kinerja, dan Sustainabilitas. Yogyakarta: Penerbit Andi
Barro, Robert J. 2002. Nothing Sacred. The MIT Press: Cambridge.
Blakely, Edward J. 1994. Planning Local Economic Development: Theory and Practice. Second Edition. US: Sage Production
Boediono, 2007. Dimensi Ekonomi-Politik Pembangunan Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
Boediono. 2009. Ekonomi Indonesia Mau ke Mana? Kumpulan Esai Ekonomi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Freedom Institute
Hamzah, Fahri. 2010. Negara, Pasar dan Rakyat: Pencarian Makna, Relevansi dan Tujuan. Jakarta: Faham Indonesia
Hertz, Noreena. 2005. Perampok Negara. Yogyakarta: Alenia
Rais, Amien. 2008. Agenda-Agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia. Yogyakarta: PPSK Press.
Sutrisno, 2008. Menuju Indonesia Pemain Utama Ekonomi Dunia, Yogyakarta: Graha Ilmu
Santos, Arysio. 2010. Atlantis: The Lost Continent Finally Found. Jakarta: Ufuk 
Ismail, Taufiq. 2008. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia: Seratus Puisi Taufiq Ismail. Jakarta: PT Cakrawala Budaya Indonesia
Maarif, Ahmad Syafii. 2008. Plus-Minus 63 Tahun Kemerdekaan Bangsa. Jakarta: Republika
Yustika, Ahmad Erani. 2008. Ekonomi Kelembagaan: Definisi, Teori, dan Strategi. Malang:  Bayu Media Publishing


[1]Dalam  Inward-Looking Policies, Institutions, Autocrats, and Economic Growth in Latin America: An Empirical Exploration. Alberto Chong dan Luisa Zanforlin Source. Public Choice, Vol. 121, No. 3/4 (Oct., 2004), pp. 335-361

Sunday, 5 January 2014

Garuda Muda dan Masa Depan Indonesia*

Foto saya (paling kanan) dkk FDSI dalam Aksi Damai untuk Timnas AFF 2012

Oleh Rizky Febriana

Kita, hampir tidak mendapatkan jawaban apa yang bisa dibanggakan dari ke-Indonesia-an Kita? Kebanggaan yang bisa membuat kita terharu biru yang disana ada senyuman bersamaan dengan tangisan tanda kebanggaan. Lalu apa yang bisa dibanggakan ketika Indonesia Kita selalu diwarnai oleh kerusuhan antar etnis, tawuran genk motor, premanisme, korupsi, penistaan agama, bunuh diri, mabuk, judi, kekerasan rumah tangga, perceraian, penculikan, ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran. Secara sadar ataupun tidak, inilah yang menghiasi detik-detik hidup Kita pada hari ini.
Namun ternyata kita masih bisa mendapatkan jawaban lain atas kebanggaan ke-Indonesia-an Kita. Kebanggaan itu bukan dari jumlah pulau kita yang menghilang satu per satu, bukan pula dari banyaknya suku bahasa dan budaya di Indonesia yang membuat Kita berperang satu dengan yang lainnya, bukan pula hilangnya kebanggaan berbahasa dan budaya yang diambil oleh negara lain, bukan pula dari jumlah TKI yang meningkat berbanding lurus dengan jumlah TKI yang disiksa, bukan pula dari jumlah koruptor yang semakin banyak dari hari kehari. Kebanggan itu ada ketika putra-putri bangsa ini bersaing dengan negara lain untuk memperebutkan posisi yang terbaik dengan cara-cara yang baik, ketika bendera merah putih berkibar dan Indonesia raya berkumandang dengan garuda di dada. Dan ternyata salah satu kebanggaan itu begitu sederhana….
Sore itu, 12 Oktober 2013, menjadi pertandingan paling menentukan siapa yang akan jadi juara grup G kualifikasi AFC Cup U-19 Myanmar 2014 antara Timnas U-19 melawan Korea Selatan. Antusiasme masyarakat tetap sama terhadap sepakbola nasional, tidak pernah berubah, penuh semangat, selalu ramai dan saya hanyalah 1 diantara sekitar 50 ribu penonton yang memadati Stadion Gelora Bung Karno waktu itu. Dari sektor 17 kategori IV tribun atas, saya menjadi saksi bersama ratusan juta penduduk Indonesia lainnya bagaimana perjuangan Evan Dimas cs untuk lolos ke AFC Cup U-19 Myanmar begitu luar biasa. Ditengah guyuran hujan dan sikap inferior sebagian kita terhadap musuh, ternyata Indonesia mampu menang 3-2 mengalahkan sang juara bertahan AFC Cup U-19 untuk pertama kali sejak tahun 1975. Jika boleh berkata, hari itu adalah hari bersejarah bagi U-19, pecinta sepakbola nasional dan rakyat Indonesia karena kemenangan ke-3 beruntun tersebut mengantarkan Indonesia melaju ke Myanmar sebagai juara grup G.
Kemenangan ini melanjutkan tren positif anak asuh Coach Indra Sjafri di dua pertandingan sebelumnya vs Filipina (2-0), vs Laos (4-0). Kemenangan ini juga semakin menambah prestasi Garuda Jaya U-19 setelah sebelumnya mampu menjadi juara di AFF (Asean Football Federation) Cup U-19 tahun 2013 dan juara berturut-turut di turnamen HKFA (Hong Kong Football Asociaction) Youth Invitational Cup 2013 dan 2012. Bagi Kami, suporter pecinta Timnas, sangat setuju dengan pernyataan Coach Indra Sjafri sesaat setelah pertandingan tersebut, “Mulai sekarang, Indonesia adalah Macan Asia!”.   

3 Aktor Kemenangan
Setidaknya ada 3 aktor kemenangan dibalik Timnas U-19. Pertama adalah anak-anak muda yang dipanggil dengan nama Garuda Jaya, Evan Dimas cs. Usianya yang relatif muda, 17-18 tahun adalah boleh jadi merupakan cermin anak-anak muda Indonesia yang sesungguhnya. Sekiranya tidak berlebihan ketika mereka dikatakan mirip dengan anak-anak muda era sumpah pemuda 1928 atau era Rengas Dengklok 1945 atau era pemuda 1966 atau era pemuda 1998. Para pemuda yang digambarkan Bung Karno sebagai sosok unggul, pilihan, bergairah, bergelegak dan bergelora secara fisik, psikis, intelektual, serta sikap. Pemuda sosok superior, progresif, revolusioner dengan api berkobar-kobar dan bara spirit yang menyala-nyala. Evan Dimas cs begitu revolusioner, bergelora, progresif namun unggul sikap. Cetak gol sujud syukur, sebagai tanda tunduk kepada Sang Pencipta. Main bola dari kaki ke kaki, tiki-taka ala Barcelona, menandakan bahwa segala sesuatu itu butuh proses dan kerjasama. Setelah bertanding cium tangan, tanda bakti kepada orang yang lebih tua. Indonesia raya berkumandang, tangan mengepal diletakan dada, pertanda Indonesia di dadaku, Indonesia kebangganku.
Kedua adalah Coach Indra Sjafri dan jajaran staf pelatih, mulai dari assistant coachmatch analystmental advisor, dokter tim, physiotherapist hingga kit man. Saya pribadi tidak mengenal Coach Indra, apalagi Beliau yang sudah sangat pasti tidak mengenal saya. Saya hanya mengenalnya melalui situs jejaring sosial, facebook, yang kebetulan kami sudah berteman dan juga dari grup diskusi para supporter Indonesia, Forum Diskusi Suporter Indonesia. Di grup tersebut, bahkan kawan-kawan suporter yang lain sudah pernah kopdar (kopi darat) bertatap muka untuk sedikit berbincang tentang sepakbola Indonesia dengan Coach Indra jauh sebelum Coach Indra semakin terkenal. Sosok yang rela blusukan anti pemain titipan, itulah kesan Kami sebagai suporter. Maka tak heran jika banyak punggawa Garuda Jaya yang terlahir dari keluarga yang secara ekonomi [mohon maaf] mungkin di bawah rata-rata dan juga dari berasal dari pelosok negeri seperti Bireun Aceh, Alor NTT, wilayah Gunung Bintang Kalimantan hingga ujung timur dari pulau Papua. Pribadinya yang hangat mampu meyakinkan bahwa kebersamaan jauh lebih penting ketimbang tawaran iklan personal Rp300 juta kepada Evan Dimas atau kepada pemain lainnya. Pribadinya yang terbuka mendukung science & statistic dalam sepakbola sebut saja tentang VO2 Max atau data match analysis dari seorang Rudy Eka Priyambada (match analyst) dan para ahli sport science dari UNJ, UNM dan UNY. Pribadinya yang berpendirian dan konsisten pada akhirnya membawa Garuda Jaya semakin harum di mata pecinta sepakbola Indonesia. Dan Kami para suporter #menolaklupa ketika hampir saja Coach Indra digeser oleh pelatih Blanco akibat kisruh pengurus PSSI yang seolah tak pernah berujung.
Ketiga adalah suporter. Bill Shankly mantan pemain Liverpool pernah berujar "If you can't support us when we lose or draw, don't support us when we win.” Kata-kata itu kembali dipopulerkan oleh akun jejaring sosial yang diduga milik Ferdinand Sinaga sesaat setelah kegagalanya mengeksekusi tendangan di babak penalti final sepakbola Sea Games XXVI 2011 Jakarta melawan Malaysia yang akhirnya berkesudahan 4-3 untuk Malaysia, “Jika Kalian tidak bisa mendukung Kami disaat Kami kalah, maka jangan pernah ikut bersorak ketika Kami menang.” Bagi suporter, menang atau kalah, mereka tetap timnas dan dianggap seperti para pahlawan, terlebih jika juara. Untuk itu, pemain ke-13 dalam sepakbola juga merupakan aktor dibalik kesuksesan Timnas Garuda Jaya U-19. Maka tak heran Evan Dimas cs sangat berterimakasih kepada suporter Indonesia. Keberadaan suporter tidak hanya penting bagi pemain. Coba lihat bagaimana PSSI dan penyelenggara dengan mudah meraup keuntungan dari uang-uang suporter di setiap perhelatan sepakbola termasuk di AFF Cup U-19 di Sidoarjo-Gresik ataupun di penyisihan grup G AFC Cup U-19 di Jakarta pada 2013 lalu? Belum lagi dari penonton layar kaca, banyak perusahaan yang antri untuk mengiklankan produknya sementara stasiun televisi berebut hak siar, termasuk juga para politikus yang berlomba menarik simpati?

Karena Kita juga Garuda Muda…
Kegemilangan Garuda Muda Garuda Jaya a.k.a Timnas U-19 hanya sekelumit cerita bahwa Indonesia Bisa! Bisa maju, bisa mandiri, bisa bersaing dan bisa unggul ditengah kepesimisan sebagian orang terhadap masa depan ke-Indonesia-an Kita. Seperti pesan Bung Karno “for a fighting nation, there is no journey’s end!” atau seperti kata Carl Schurz (1872) “My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right.” Kiranya tak berlebihan jika seorang Ben Anderson (2008), pengamat politik Indonesia, meyakini sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ben Anderson mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Maka masa depan Indonesia memang akan benar-benar ditakdirkan bagi anak-anak muda saat ini.
Untuk itu ada 3 nilai yang dapat direfleksikan dari skuat Garuda Muda, Garuda Jaya U-19. Kesatu, mimpi. Garuda Muda punya world cup dream, New Zealand U-20 2015. Dalam setiap kesempatan di wawancarai oleh media, Coach Indra selalu berkata “Semangat lolos piala dunia!”. Itu adalah mimpi besar, mimpi yang sama dengan para pecinta sepakbola nasional. L' Histoire se Repete, sejarah mungkin berulang! Siapa tahu Garuda Muda lolos ke New Zealand U-20 2015 dan jika itu terwujud maka hal ini mengulang sejarah The 1979 FIFA World Youth Championship dimana Indonesia mampu lolos ke Piala Dunia U-19 meski harus puas hanya menjadi juru kunci grup B di bawah Argentina, Polandia dan Yugoslavia dan gagal ke babak perempat final. Namun yang terpenting adalah mimpi terukur yang dimiliki oleh skuat Garuda Muda. Mimpi terukur adalah mimpi yang  memiliki visi misi dan harus jelas kapan ditargetkan akan tercapai. 2013 juara ASEAN, 2014 3 besar Piala Asia, 2015 lolos piala dunia. Lantas, apakah Kita anak-anak muda Indonesia masih memiliki mimpi seperti Evan Dimas cs atau seperti anak-anak generasi terdahulu (yang sekarang sudah menjadi orang tua) ketika ditanya oleh gurunya mereka selalu berebut menjawab dengan gagah berani “Aku ingin jadi dokter, kalau Aku ingin jadi pilot, Aku polisi, dan seterusnya….”
 Kedua, tidak inferior. Coach Indra Sjafri pernah bilang kepada media dan seluruh rakyat Indonesia sesaat sebelum pertandingan melawan Korsel di babak penyisihan grup G Piala Asia, “Jangan terlalu dibesar-besarkan tentang Korsel. Sampaikan pada Korsel Kami akan mengalahkan mereka di 12 Oktober 2013 nanti.” Ini urusan mental. Perkara hasilnya benar-benar mengalahkan Korsel itu anugerah atas kerja keras Garuda Muda. Mentalitas adalah 1 diantara 4 penilaian Coach Indra Sjafri terhadap skuat pilihannya selain skill, fisik dan teknik permainan. Begitu juga anak-anak muda Indonesia lainnya, mentalitasnya harus dilatih dan dijaga. Mentalitas tidak sombong di saat menang, mentalitas tidak mudah putus asa ketika kalah, mentalitas petarung, mentalitas pekerja keras harus dimiliki anak-anak muda seperti mentalitas anak-anak muda skuat Garuda Jaya.
Ketiga, 3 aktor kemenangan: anak-anak muda itu sendiri, orang tua dan suporter. Seperti halnya skuat Garuda Jaya yang terbilang sukses di usia mereka. Kita anak-anak muda lainnya juga memerlukan aktor-aktor lain untuk mendukung karir dan kesuksesannya. Selain Kita sendiri, dukungan orang tua dan lingkungan sangat dibutuhkan oleh Kita sebagai anak-anak muda. Orang tua dalam hal ini bisa orang tua dalam pengertian negara, guru (coach) ataupun orang tua dalam keluarga juga harus memberikan teladan. Sedangkan lingkungan (suporter) yang diartikan sebagai lingkungan pendidikan, agama, sosial kemasyarakatan dan ekonomi juga harus menjadi sarana yang mendukung bagi perkembangan dan kesuksesan anak-anak muda di masa depan dan juga untuk Indonesia yang lebih unggul dan bermartabat. []                                                                                                                       





Monday, 9 December 2013

BMT & Pedagang Pasar Tradisional

Ditulis oleh: 
Rizky Febriana (Analis Bisnis, Ekonomi dan Politik)*

Sekitar tahun 2011, Pasar Tradisional Colombo yang berlokasi di Jalan Kaliurang KM 7 Desa Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Propinsi Yogyakarta menjadi tempat yang sangat berjasa bagi penulis. Bagaimana tidak, berkumpulnya para pedagang sayur mayur, buah-buahan, bumbu masak, daging, ikan laut, roti (brambang), pakaian, makanan, tape dan lainnya yang berjualan dari pukul 04.00-12.00 WIB di pasar tersebut menjadi jalan bagi penulis dalam menyelesaikan tugas skripsi untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari salah satu kampus negeri yang kata orang termasuk ternama di negeri ini.
Dimbimbing oleh Dr. Anggito Abimanyu dan Prof. Samsubar Saleh, 35 orang pedagang dengan berbagai jenis dagangan menjadi objek penelitian penulis. Jumlah objek penelitian yang terkesan sedikit namun yang terpenting didasari oleh pendapat dari rule of thumb yang dijelaskan oleh Roescoe dalam Sekaran (2003) yang menyatakan bahwa jumlah sampel antara 30-500 sudah dirasakan memenuhi kebanyakan penelitian sosial yang sering terjadi. Dalam studi pustaka yang lain mengatakan tidak ada batasan yang jelas mengenai jumlah sampel yang kecil dan yang besar (Soeratno dan Arsyad, 2008).
Penelitian yang dijalani waktu itu adalah mencari tahu apakah pembiayaan (kredit) yang diberikan oleh Baitul Mal Wat-Tamwil Surya Amanah yang berlokasi 5 meter di selatan pasar tersebut mampu mempengaruhi omset para pedagang tradisional yang berjualan di Pasar Colombo? Dengan model penelitian modifikasi dari Koivu (2002); Gillman dan Harris (2004a); Rahayu (2008) terkait pengaruh kredit terhadap pertumbuhan, lalu model Coob-Dauglas (Harvey dan Taylor, 1993) terkait pengaruh tenaga kerja terhadap output, dan model penelitian ini secara umum merupakan modifikasi dari model penelitian Kuncoro (2003) dan Narindra (2008) sehingga model yang digunakan waktu itu adalah seperti:
Dimana,
Variabel
Keterangan
Satuan
O
Omset usaha
Variabel kontinyu (rupiah)
Kr
Kredit yang diterima
Variabel kontinyu (rupiah)
Ms
Modal sendiri
Variabel kontinyu (rupiah)
Tk
Jumlah tenaga kerja
Variabel diskrit (jiwa atau orang)
LU
Lama Usaha
Variabel kontinyu (tahun)
IKT
keikutsertaan organisasi bisnis
Variabel kontinyu (buah)
TPTK
Tingkat Pendidikan Tenaga Kerja
0 = Mayoritas tidak lulus SMP
1 = Mayoritas lulus SMP
DEM
Demand terhadap produk
1 = Sangat rendah; 2 = rendah;
3 = Cukup; 4 = Tinggi; 5 = Sangat Tinggi
Dengan menggunakan software Eviews 4 dan alat analisis sederhana OLS (Ordinary Least Square) ditemukan bahwa pembiayaan (kredit) merupakan salah satu faktor yang berpangaruh positif terhadap omset para pedagang dengan nilai koefisien regresi variabel kredit, 0,4976. Hal ini menunjukan bahwa setiap kenaikan kredit sebesar 1% maka akan meningkatkan omset sebesar 0,4976% dengan asumsi ceteris paribus.
Walau model penelitian ini lolos uji signifikansi (uji t, uji F dan uji R2), uji asumsi klasik (uji normalitas, multikoliniearitas dan heteroskedastisitas) dan lolos uji dosen penguji, namun penelitian ini memiliki keterbatasan karena jumlah cakupan penelitian yang tidak begitu luas dan hanya para pedagang yang mendapatkan fasilitas kredit dari Baitul Mal Wat-Tamwil Surya Amanah, sebuah BMT yang terlahir dari rahim warga Muhammadiyah.
Namun demikian, fungsi kredit yang berpengaruh positif juga sejalan dengan beberapa penelitian lainnya. Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2006) tentang pengaruh pembiayaan BMT terhadap pengembangan omset pelaku usaha kecil pasar tradisional dan inpres di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan menunjukan bahwa 78% responden di Jawa Tengah, 64,9% di Sulawesi Selatan dan 76,7% di Jawa Barat mengalami peningkatan omset usahanya setelah mendapatkan pembiayaan dari BMT karena adanya tambahan modal kerja yang memang sangat dibutuhkan.
Dalam kategori Bank Indonesia, BMT dikategorikan sebagai lembaga keuangan mikro (LKM) yang bersifat non bank sama halnya dengan koperasi simpan pinjam (KSP), lembaga dana kredit pedesaan (LPKD), dan credit union (Budiantoro, 2003). Pada akhir Oktober 1995 di seluruh Indonesia telah berdiri lebih dari 300 BMT, pada tahun 1998 berdasarkan PINBUK per 12 Februari 1998 jumlah BMT mencapai 2000 unit, tahun 2005 jumlah BMT mencapai angka 3500 unit dengan jumlah asset 266 miliar (Ridwan, 2006). Bahkan sampai bulan Juni 2006, aset BMT di Indonesia mencapai Rp 2 triliun, dengan pertumbuhan 30 persen (Antagia dan Ikhwan, 2007).
Dari beberapa lembaga keuangan syariah yang ada, BMT telah hadir sebagai lembaga keuangan mikro syariah dengan bentuk yang paling sederhana dan paling dekat dengan masyarakat bawah. 64% responden penelitian penulis mengatakan bahwa kedekatan lokasi dan sistem ’jemput bola’ (proses peminjaman dan cicilan) oleh BMT Surya Amanah yang berlokasi persis di selatan Pasar Colombo yang menjadi alasan utama pedagang tertarik mengajukan kredit. Disamping itu, pola pemantauan secara langsung oleh BMT juga terbukti dapat menekan besarnya kredit macet (Non Performing Loan) (LIPI, 2006). Dilihat dari segi likuiditas. LDR BMT mencapai 100%, artinya jumlah dana yang diterima BMT dari masyarakat dengan pembiayaan pembiayaan yang disalurkan untuk masyarakat jumlahnya berimbang. Kebanyakan BMT LDR-nya sekitar 100%, kecuali di Sumatera Utara sampai 293% (Muhammad, 2002).
Menurut Prabowo (2008) BMT sangat berperan penting dalam perkembangan keuangan mikro di Indonesia dengan beberapa alasan, antara lain: Pertama, Indonesia tengah menggalakan pengembangan usaha mikro  sehingga peran LKM termasuk BMT sangat dibutuhkan. Kedua, mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam sehingga lembaga keuangan mikro yang berprinsip syariah seperti ini akan menjadi pilihan pelaku usaha mikro  yang juga beragama Islam. Ketiga, rencana pengembangan jumlah BMT tahun 2010 oleh Asosiasi BMT seluruh Indonesia (ABSINDO) menjadi berjumlah 10.000 BMT yang menjadi tantangan pengembangan kelembagaan BMT itu sendiri.
Sebuah penelitian LIPI (2006) mengatakan bahwa banyak nasabah rentenir beralih ke BMT alasan prosedur yang mudah dan syarat yang ringan. Berdasarkan data Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (Pinbuk) tahun 2004 jumlah BMT di Indonesia mencapai 3.123 unit dimana sebanyak 78,8% nya sudah memiliki kisaran asset antara Rp50 juta sampai dengan Rp500 juta meskipun demikian sebagian kecil (4,8%) telah memiliki asset yang cukup besar yaitu di atas Rp 1 Milyar.  Berdasarkan data Perhimpunan BMT Indonesia sampai dengan akhir tahun 2011 terdapat sekitar 4000 BMT dengan aset Rp6 triliyun dengan 4 juta nasabah dan mempekerjakan sekitar 20.000 pekerja.
Fenomena menjamurnya BMT menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha mikro  termasuk para pedagang tradisional karena kehadirannya menjadi salah satu solusi di dalam permasalahan pembiayaan para pelaku usaha kecil tersebut. Berdasarkan pengamatan Pusat Konsultasi Pengusaha Kecil UGM, permasalahan permodalan yang dihadapi pelaku usaha kecil adalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura, karena kebanyakan pengusaha kecil mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, agunan tidak memenuhi syarat, dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi (Kuncoro, 1997; Kuncoro, 2006:377). Salah satu solusi penghidupan kembali sekaligus bagian upaya pengembangan pelaku usaha kecil adalah pemberian kredit usaha, sehingga langkah-langkah pemberian pembiayaan (kredit) bagi pelaku usaha kecil dinilai sangat perlu sebagai bagian dari pemberdayaan pelaku usaha kecil. Dan penulis telah membuktikan itu, bahwa pembiayaan (kredit) BMT Surya Amanah mampu meningkatkan omset para pedagang tradisional Pasar Colombo, Sleman Yogyakarta.

3 Langkah Akselerasi
Pertama, libatkan pedagang pasar tradisional. Menurut Kementerian Perdagangan (2012) ada sekitar 13.450 pasar tradisional dengan 12,6 juta pedagang. Keterlibatan pasar tradisional akan menimbulkan kapitalisasi dalam bentuk multiplier effect. Jika kita berasumsi, 12,6 juta pedagang memiliki 3 anggota keluarga lainnya maka ketika kredit mampu meningkatkan omset pedagang, maka akan berdampak terhadap 37,8 juta orang secara ekonomi. Multiplier effect lainnya adalah omset yang meningkat karena pengaruh kredit maka kemungkinan besar pedagang akan meningkatkan kapasitas penjualannya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan bahwa emakin besar realisasi kredit yang diberikan menyebabkan peningkatan perkembangan industri kecil di Yogyakarta dengan adanya penambahan unit usaha, penyerapan tenaga kerja, nilai investasi, nilai produksi, dan penggunaan bahan baku (Simbolon, 1996; Resnia, 2005). Oleh karena itu, dukungan kredit terhadap para pedagang sama saja menghidupkan bisnis di Indonesia karena business is the heart of economic (Blakley, 1994). 
Kedua, libatkan komunitas wanita dalam setiap penyaluran pembiayaan. Hasil penelitian penulis, 66% pedagang Pasar Colombo adalah wanita. Studi literatur yang menunjukan bahwa kredit efektif disalurkan ke para wanita sudah terlampau banyak. Salah satunya kisahnya datang dari keberhasilan Muhammad Yunus di Bangladesh, bagaimana akhirnya dapat menerima penghargaan internasional karena saluran kredit yang diberikan kepada para wanita (Yunus, 2007). Wanita yang terlibat di dalam komunitas yang dianggap akan berhasil di dalam penggunaan kredit karena wanita lebih dipercaya dalam mengelola keuangan dan mengerti makna komunitas. Community sendiri berasal dari bahasa Latin “munus”, yang bermakna the gift (memberi), cum, dan kebersamaan (togetherness) antara satu sama lain. Secara umum, komunitas (community) adalah sekelompok orang yang hidup bersama pada lokasi yang sama, sehingga mereka telah berkembang menjadi sebuah “kelompok hidup” (group lives) yang diikat oleh kesamaan kepentingan (common interests) (Syahuti, 2005).
Ketiga, kebijakan supply and demand side. Selama ini, kita hanya mengatakan bahwa permasalahan, pedagang tradisional dan usaha mikro hanya terletak pada kurangnya modal (lack of capital). Namun, kita sepertinya terlupa dengan berbagai macam masalah lainnya yang dihadapi oleh usaha mikro seperti sulitnya membuat proposal permohonan dana, masalah sistem administrasi antara kepemilikan pribadi dengan usahanya, masalah sulitnya menyusun perencanaan bisnis, dan hal-hal lainnya yang bersifat teknis. Artinya ke depan, BMT jangan hanya mengurusi aspek permodalan usaha mikro. Sumodiningrat (2004:82) menjelaskan bahwa bagi usaha mikro diperlukan pengembangan kapasitas usaha yang meliputi: production capacityfinancial capacitymanagerial capacitymarketing capacity, dan business development capacity.
BMT dapat lebih besifat universal, tidak hanya sebagai pendukung financial capacity. Kebijakan supply side adalah pengembangan yang difokuskan pada berbagai kebijakan dan program untuk membantu usaha mikro dari segi pembiayaan. Sedangkan demand side diarahkan untuk mendorong agar usaha mikro mampu meningkatkan elijibilitas dan kapabilitasnya dalam kapasitas usahanya dengan menjadi konsultan bagi perencanaan bisnis usaha mikro, memberikan pelatihan kepada usaha mikro terkait pengelolaan bisnis, membantu dalam memberi masukan bagi penyusunan proposal pembiayaan bisnis jika usahanya terus berkembang dan membutuhkan dana pinjaman yang besar yang tak dapat disediakan oleh BMT.
Akselerasi BMT dengan kebijakan supply and demand policy dapat menjadikan BMT sebagai primadona di tengah pelaku usaha mikro di Indonesia yang menderita. BMT sebagai representatif dari sedemikian banyak instrumen ekonomi syariah dapat membuktikan bahwa ekonomi Islam (syariah) menciptakan kemaslahatan umat yang berujung pada keadilan, kasih sayang, kesejahteraan dan kebijaksanaan yang sempurna. Karena, apapun yang menyimpang dari keadilan pada penindasan, dari kasih sayang pada kekerasan, dari kesejahteraan pada kemiskinan, dan dari kebijaksanaan pada kebodohan, adalah sama sekali tidak berkaitan dengan syariah (Ibnu Qayyim, 1955). Semoga!
                                                  
                                                                     DAFTAR PUSTAKA

Antagia, IBP Angga dan M. Reza Ikhwan. 2007. Optimalisasi Peran BMT Menuju Ekonomi Indonesia Yang Lebih Baik; Pendekatan New Institutional Economic (NIE). Yogyakarta: Jurnal Ekonomi Syariah Muamalah Vol 4 17 Januari 2007 FE UGM
Armstrong, Harvey & Jim Taylor. 1993. Regional Economics and PolicySecond Edition. London: Harvester Wheatsheaf
Arsyad, Lincolin. 2008. Lembaga Keuangan Mikro: Institusi, Kinerja, dan Sustanabilitas. Yogyakarta: Penerbit Andi
Blakely, Edward J. 1994. Planning Local Economic Development: Theory and Practice. Second Edition. US: Sage ProductionBoediono. 2008. Ekonomi Mikro. Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE
Dumairy, 2009. Bank Syariah. Slide persentasi kuliah Agama Islam
Gillman, M dan M. Harris (2004a). Inflation. Financial Development and Endogeneous Growth. Working Papers Series, Monash University.
Gujarati, D. 2003. Basic Econometrics. Fourt Edition. New York: Mc-Graw Hill, Inc
Gujarati, D.2010. Dasar-Dasar Ekonmetrika. Buku 1-Edisi 5. Indonesia: Penerbit Salamba Empat
Koivu, Tuuli. 2002. Do Efficient Banking Sectors Accelerate Economic Growth in Transition Caountries? BOFIT (Bank of Finland, Institute for Economies in Transition). Discussin Papers 14.
Kuncoro, Mudrajad. 2006. Ekonomika Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Kuncoro, Mudrajad. 2008. Pembiayaan Usaha Kecil. Economic Review. No. 211.
LIPI. 2006. Pengaruh BMT Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat. Nadjib, Muhammad. Peny. Jakarta
Muhammad. 2002. Manajemen Bank Syariah. Yogayakarta:UPP AMP YKPN.
Perhimpunan Bank Indonesia. 2012. Profil Januari 2012. Jakarta: Perhimpunan BMT Indonesia
Prabowo, Andi. 2008. Baitul Maal wa Tamwilwww.darulfalah.web.id
Rahayu, Srie Haryani. 2008. Analisis Pengaruh Kredit Terhadap Kinerja Usaha Kecil: Studi Kasus Usaha Kecil Kerajinan Hasil Laut di Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap 2008. Skripsi S1. Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. 
Resnia, Ranni. 2005. Analisis Pengaruh Kredit Terhadap Kinerja UKM di Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi S1. FE UGM: Yogyakarta
Ridwan, Muhammad. 2006. Sistem dan Prosedur Pendirian Baitul Mal wat-Tamwil (BMT). Yogyakarta: Citra Media
Sekaran, Uma. 2003. Research Methods for Business: A skill Building Approach4th edition. New York: John Wiley and Sons, Inc.
Siebel, Hans Dieter. 2008. Islamic Microfinance in Indonesia: The Challenge of Institutional Diversity, Regulation and Supervision. Journal of Social Issues in Southeast Asia, Vol. 23. No. 1, 2008.
Soeratno dan Lincolin Arsyad. 2008. Metodologi Penelitian untuk Ekonomi dan Bisnis. Edisi Revisi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN
Sumodiningrat, Gunawan.2004. Otonomi Daerah Dalam Penanggulangan Kemiskinan: Upaya-Upaya Pengurangan Pengangguran dan Pemberdayaan Usaha mikro di Tingkat Lokal. Jakarta.
Syahuti, 2005. Penerapan Pendekatan Pembangunan Berbasis Komunitas. Jakarta: PSE Litbang Deptan RI
Yunus, Muhammad dan Alan Jonis. 2007. Bank Kaum Miskin. Sepong: Marjin Kiri. Penerjemah: Irfan Nasution


*) Ditulis dalam rangka lomba karya tulis ekonomi syariah GRES! http://gresindonesia.com 

Tuesday, 3 December 2013

Adu Kuat Buruh vs Pengusaha


Q = f (K, L) merupakan fungsi dasar proses produksi karya Cobb-Dauglass, K untuk kapital dan L untuk Labor #simbiosismutualisme
K dan L merupakan gambaran saling ketergantungan antara kapital dari para pemilik modal (pengusaha) dengan labor (buruh) #simbiosismutualisme
K dan L tidak bisa salah satunya dihilangkan, krn setiap proses Q (quantity, produksi) butuh keduanya, maka muncul istilah simbiosis. Tentu harus #simbiosismutualisme
Buruh butuh upah sedangkan pengusaha butuh profit melalui tenaga buruh #simbiosismutualisme
Namun seringkali keduanya tidak memiliki titik temu #bipatrit dalam hal pengupahan, maka butuh pemerintah sebagai #tripatrit untuk menghasilkan equilibrium antara permintaan buruh (demand side) dg penawaran pengusaha (supply side) #simbiosismutualisme
Lantas siapa yang harus disalahkan ketika keduanya tidak menghasilkan #simbiosismutualisme, buruh minta naik gaji, sedangkan pengusaha minta keringanan gaji? Pertanyaan ini seperti pertanyaan duluan mana antara telur dan ayam? Buruh naik gaji karena harga barang2 naik atau harga barang2 naik karena gaji buruh naik?

Suara Buruh
[1] Pengusaha harus mengerti, bahwa kenaikan gaji merupakan sesuatu yang pasti terjadi setiap tahunnya. UMP se-Indonesia setiap tahun (CAGR, 2005-2013) naik sekitar 12,8% mengikuti kenaikan KHL yang selalu naik 13,3% setiap tahunnya. #Suaraburuh
[2] Kata buruh, Kami berdemonstrasi bukan hanya menuntut kenaikan gaji, tapi juga menuntut upah kawan2 Kami yang masih menerima upah di bawah KHL?  Di 2006-2012 banyak 37% rata2 buruh dpt upah dibawah upah minimum. Di 2009, bahkan menyentuh angka 44,6%. . #Suaraburuh

[3] Demonstrasi dijamin konstitusi, tapi benarkah beberapa pengusaha sewa ormas untuk melarang demonstrasi para buruh? . #Suaraburuh

[4] Buruh juga dukung BPJS 2014. Kalo penonton cuman tahu buruh minta gaji Rp3,7 juta sebulan. Dan BPJS bukan produk DPR RI, tp hasil jalan kaki para buruh dari Bandung ke Jakarta. #Suaraburuh

[5] Pengusaha pusing bukan cuman karena ada tuntutan buruh. Tapi pungutan2 liar para preman bahkan sampe ruko2 yg kecil2 aja dipungutin. Sayangnya seringkali oknum aparat juga terlibat. Jangankan pengusaha, warga aja dipungutin. Hello aparat? Tapi g cuman oknum aparat, politikus juga butuh dana pengusaha. Coba jika tak ada pungutan liar? Pengusaha senang buruh senang . #Suaraburuh
[6] Demo buruh juga memang dikeluhkan para pengusaha dan calon investor. Tapi jgn lupa, masalah perizinan juga lebih sering dikeluhkan mereka, ada itu di doing business WB yang rilis hampir tiap tahun. Bahkan perusahaan2 yg g sanggup bayar upah, mau pergi, butuh waktu satu tahun. . #Suaraburuh

[7] Upah buruh butuh naik untuk cicilan motor Ninja Kawasaki, Samsung S3 dan perumahan? Harusnya #terimakasihburuh produsen2 otomotif, gadget dan developer properti produknya bisa terbeli meski dengan mencicil. Indonesia nih, the big four untuk urusan market. 237 juta penduduk di 2010, jumlahnya naik tiap tahun 1,49%. G cuman naik, penduduk kelas menengah juga naik. Pendapatan per kapita juga naik. Posisi skrg ±USD3ribu. . #Suaraburuh

[8] Di Jawa nih kumpul 60-70% penduduk Indonesia. Awal konsentrasi di Jakarta. Ketika JKT berubah jadi basis jasa, dan upah di JKT naik, muncul istilah baru Jabodetabek. Jabodetabek naik muncul istilah Jabodetabek-Cirangkarta atau kita kenal The Greater Jakarta. The Greater Jakarta naik, lahir istilah The Greater Semarang dan Surabaya (Gerbangkertosusila). Proses ilmiah. Terus geser. Mudah2an geser juga ke Kawasan Timur Indonesia. Kalo buruh gak demo, gak geser2 tuh konsentrasi dan pemerataan. Apalagi infrastruktur. Biar pemerintah terus berpikir. . #Suaraburuh

[9] Produktivitas buruh rendah? Produktivitas buruh di Indonesia 2001-2010 berbagai sektor CAGRnya 5,46%. UMP nominal 2005-2013, 12,8%. Lalu berapakah upah riil buruh? 2,7% per tahun.
 #Suaraburuh
[10] Kami tuntut kenaikan gaji karena beberapa kota di negara lain bahkan lebih tinggi dari upah Kami. Data The Japan External Trade Organization (JETRO) yang rilis April 2012 bisa sedikit menggambarkan itu. Untuk ukuran ASEAN Singapura, Bangkok dan Kuala Lumpur masih di atas Kami [Jakarta], apalagi daerah2 di luar Jakarta yang masih di bawah DKI Jakarta? #Suaraburuh

Suara Pengusaha
[1] Upah buruh naik, harga lahan untuk sewa pabrik atau bangun pabrik naik, harga bbm naik, belum lagi pungli. Menambah pusing Kami sebagai pengusaha #Suarapengusaha
[2] Kata teori, supply creates its own demand, dengan sendirinya supply (produk2 yg kami produksi dan jasa yang kami tawarkan) katanya dengan sendirinya akan tetap ada permintaan. Tapi nyatanya produk2 Kami banyak juga yang tidak terserap oleh pasar #Suarapengusaha karena harga jual Kami melambung krn bahan2 produksi juga melambung
[3] Mogok kerja jelas membuat produksi terhenti dan Kami merugi #Suarapengusaha
[4] Kami yang tidak sanggup membayar upah buruh pilihannya 3: menaikan harga jual produk, relokasi pabrik atau tutup sama sekali #Suarapengusaha
[5] Jika kami menaikan harga jual produk, konsekuensinya produk Kami gak ada yang beli dan dampaknya kepada konsumen yang harus membeli dengan harga mahal + pajak konsumen yang juga menambah harga jual Kami #Suarapengusaha
[6] Jika Kami relokasi pabrik, tak mungkin Kami membawa semua buruh ke tempat pabrik Kami apalagi kalo Kami pindah ke luar negeri #Suarapengusaha
[7] Jika Kami tutup sama sekali, Kami semakin rugi, buruh di PHK. #Suarapengusaha
[8] Sebagian Kami bukannya tak mau membayar tapi memang Kami tak sanggup membayar upah di atas KHL, untuk itu Kami meminta penangguhan yang juga dijamin peraturan #Suarapengusaha
[9] Doing business Indonesia memang membaik, tapi sudahkah meniadakan semua pungli2 yang ada, pungli izin, pungli lain-lain #Suarapengusaha. Apakah Kami bisa melawan? Mereka butuh dana2 Kami sedangkan Kami butuh tempat usaha.
[10] Doing business Indonesia memang membaik, tapi apakah infrastruktur seperti jalan, bandara, komunikasi, listrik, air, gas, kemacetan dll di Indonesia ikut membaik? #Suarapengusaha

3 Solusi
Solusi ini hanya berbentuk opsional, bisa dipilih salah satu ataupun ketiganya secara bersamaan….
[1] Menjadikan perusahaan dimiliki bersama melalui ESOP (Employee Stock Ownership Plan). ESOP ini telah di atur Pasal 43 ayat (3) huruf a UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”). Pasal tersebut pada intinya memungkinkan Perseroan untuk melakukan penawaran saham kepada karyawannya sendiri. ESOP sendiri akan memunculkan beberapa dampak positif: rewards (memberikan penghargaan kepada seluruh karyawan dan manajemen atas kontribusinya yang membantu meningkatkan performa perusahaan), Peningkatan Motivasi dan Komitmen, Retaining Program (dapat menarik, mempertahankan, dan memotivasi karyawan dan manajemen yang memiliki peran penting dalam meningkatkan value perusahaan) dan menimbulkan rasa memiliki.
[2] Membuat sistem pengupahan bagi hasil. Laba bersih besar pendapatan buruh ikut naik, laba bersih turun pendapatan buruh ikut turun. Memang kedengerannya agak repot bagi perusahaan2 besar. Bisa dicoba dimulai dari perusahaan2 kecil2 dan kita2 yang lagi merintis bisnis (start up). Ini yang pernah saya lakukan waktu dulu punya CV. RnB Management, usaha yang bergerak di bidang EO, web development dan cetak buku. Meski cuman seumur jagung. Bisnis dengan bagi hasil butuh keterbukaan laporan keuangan mulai dari pemasukan sampai dengan pengeluaran hingga muncul laba bersih. Setiap karyawan katakanlah digaji 1% dari laba bersih. Jika laba bersih perusahaan pada bulan Januari sekitar Rp100 juta maka 1 karyawan mendapatkan Rp1 juta. Tapi jika laba bersih perusahaan di bulan tsbt mencapai Rp1 miliar maka 1 karyawan mendapatkan pendapatan Rp10 juta. Begitu seterusnya. Dampak positif akan mampu meningkatkan kinerja karyawan.
[3] Menghidupkan koperasi karyawan. Koperasi itu mengajarkan kekeluargaan dan dari karyawan, oleh karyawan untuk karyawan. Koperasi dapat memberikan pemasukan tambahan buat buruh. Dikoperasi karyawan juga bisa Didik menjadi entrepreneur sejati. Sehingga mereka bisa merasakan bagaimana dan sulitnya menjadi pengusaha. Disamping itu, buruh bisa dididik untuk tidak berdemonstrasi meminta kenaikan gaji setiap tahunnya. Dan akan meningkatkan kinerja perusahaan.